Bu.. Duit“Hati terasa bergetar riang
Jiwa
yang diam semakin bisu
Kegelisahan
kembali datang
Kesepian
pun kian menggebu
Terpancar
oleh ku pantulan cahaya
Dari
atap masjid Al-Izzah
Mataku
tertuju dalamnya
Terpesona
akan seorang insan itu
Ku
ingin sepertinya
Laksana
amanah Bunda
Menjadi
wanita pribadi shalehah
Ku
tanamkan dalam hati
Sebuah
niat agar tumbuh
Menjadi
bunga kenyataan”
Tak sadar sebuah ungkapan
hati terbentuk dari jariku dalam puisi yang belum ku beri judul. Kemudian terlirik
mataku akan benda yang ada didinding kamar
menunjukkan pukul 03.57pm dan mu’adzin sedang bersiap-siap untuk
memberikan tanda bahwa waktu Ashar sebentar lagi tiba. Sedangkan Aku harus
bersiap-siap membereskan pakaian ku untuk pulang kampung. Ya, Aceh, tempat aku
melewati hidup dan menggali ilmu lima tahun dirumah bersama Ayah dan Bunda,
merekalah yang menjadi guru perdanaku dan ditambah lagi waktu 12 tahun mencari
ilmu di lingkungan sekolah.
“Allahu Akbar Allahu
Akbar…”
Adzan telah dikumandangkan
oleh mu’adzin pertanda waktu Ashar telah tiba. Aku langsung menuju kamar kecil
untuk berwudhu’ dan menunaikan ibadah shalat Ashar. Sehabis shalat tak lupa aku
berdoa pada Allah, agar segala impian ku menjadi yang terbaik untukku. Malaikat
mengingatkan ku untuk mengulang sebuah pintaku yang sebelumnya, “Berilah
kebahagian berikutnya dari lomba menulis itu agar ada yang ku persembahkan
untuk Bunda di hari Ibu nanti”. Sebuah harapan yang tumbuh untuk membahagiakan
Bunda.
***
Aku
berjalan menuju gerbang UINSU melewati banyak pepohonan yang rindang, bertegur
sapa dengan orang-orang yang ku kenal, ditambah lagi dengan angin siang
menjelang senja, tentu sangat sepoi-sepoi serasa ingin merebahkan badan. Hingga
tiba di gerbang kampus Aku langsung menaiki mobil angkutan umum atau angkot
yang menuju loket Bus dengan tujuan Aceh namun perjuangan belum berakhir, Bus
yang sesuai target ku sudah terisi dengan para penumpang yang lain, tidak putus
asa segera aku menuju loket bus lainnya. Akhirnya satu tiket tujuan Aceh ada
untuk ku dengan keberangkatan pada pukul itu juga. Di mobil tak lupa akan pesan
Bunda “Jangan berhenti untuk berdzikir dan shalat jangan tinggal.”
Setengah
perjalanan Aku mengecek ponsel yang niatnya ingin ku kabari keluarga bahwa
telah sampai Perbatasan antara Aceh dengan Sumatra Utara. Ternyata ada pesan baru
berisikan ucapan selamat, “Congratulation kepada para pemenang Romantic Story
With Mom …bla..bla..” lomba itu diselenggarakan oleh DEMA FEBI UINSU dalam
rangka menyambut Hari Ibu tahun lalu. Wah… Alhamdulillah. Bersyukurku pada sang
Khaliq yang mengabulkan pinta isi hati ku waktu itu. Tiada kata yang bisa
terucap dari kebahagiaan ini. Terimakasih buat Ayah yang berupaya menurunkan
bakat ayah menulis untukku, ini masih dasar sekali Aku harus semakin berusaha
lagi dalam menulis, karena Aku pernah melihat pernyataan dari Al-Ghazali “Jika
kau bukan anak raja dan bukan ulama besar, maka Menulislah”. Serta berteman
baik dengan sekumpulan kertas-kertas, dengan semua jenis buku, serta ingin
menjadi bagian dari mereka, karena bagi ku buku adalah guru yang kedua setelah
orang tua yang tidak dapat dipisahkan dari setiap individu, seperti pepatah Arab
“Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku”. Sekali lagi terimakasih
untuk mu Ayah yang ingin anak-anaknya bisa melebihi dirinya karena keberhasilan
orang tua itu adalah ketika anak-anaknya bisa lebih unggul darinya. Aku bisa
menulis karena Ayah dan Bunda, Aku juga bisa menulis karena adanya buku.
***
Setiba
dikampungku, dengan melihat sebagian daerah digenangi air. Hari-hari terus
berjalan, Aku baru merasakan apa yang dialami keluargaku belakangan ini dengan
keadaan rumah yang terendam banjir, rasa pahitnya harus mengungsi dan hangatnya
ketika berkumpul bersama keluarga setelah sekian lama tersibuk dengan aktivatas
masing-masing. Tak terbayangkan bagiku dengan kisah-kisah diluar sana kini
terjadi pada keluarga dan lingkungan sekitar ku. Tidak sedikit banyak fasilitas
dirumah rusak terkena banjir termasuk buku-buku waktu masa Aliyah ku dulu yang
awalnya ingin Aku berikan kepada yang memerlukan tetapi tidak sesuai dengan apa
yang direncanakan. Aku hanya berharap penuh dari peristiwa ini agar Aku bisa lebih
mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Lebih banyak bersyukur atas segala
kenikmatan yang Allah berikan pada kita. Setiap insan pasti merasakan
kebahagiaan bisa berteman dengan buku, karena buku memberikan semangat-semangat
abstrak dalam melewati kehidupan, tak banyak orang-orang sukses dengan hobinya
membaca buku, menulis buku bahkan dikenang sampai akhir hayat pun. Namun
semuanya takkan lepas dengan Bu DUIT “Buku, Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakkal.
Insya Allah.
Lomba Menulis Cerpen LDK UIN Sumatera Utara Pesta Buku Medan 12-17 Maret 2015

0 komentar:
Posting Komentar