Selasa, 10 Maret 2015

Bu.. DUIT - Lomba Menulis Cerpen



Bu.. Duit
 
“Hati terasa bergetar riang
Jiwa yang diam semakin bisu
Kegelisahan kembali datang
Kesepian pun kian menggebu
Terpancar oleh ku pantulan cahaya
Dari atap masjid Al-Izzah
Mataku tertuju dalamnya
Terpesona akan seorang insan itu

Ku ingin sepertinya
Laksana amanah Bunda
Menjadi wanita pribadi shalehah
Ku tanamkan dalam hati
Sebuah niat agar tumbuh
Menjadi bunga kenyataan”

Tak sadar sebuah ungkapan hati terbentuk dari jariku dalam puisi yang belum ku beri judul. Kemudian terlirik mataku akan benda yang ada didinding kamar  menunjukkan pukul 03.57pm dan mu’adzin sedang bersiap-siap untuk memberikan tanda bahwa waktu Ashar sebentar lagi tiba. Sedangkan Aku harus bersiap-siap membereskan pakaian ku untuk pulang kampung. Ya, Aceh, tempat aku melewati hidup dan menggali ilmu lima tahun dirumah bersama Ayah dan Bunda, merekalah yang menjadi guru perdanaku dan ditambah lagi waktu 12 tahun mencari ilmu di lingkungan sekolah.
“Allahu Akbar Allahu Akbar…”
Adzan telah dikumandangkan oleh mu’adzin pertanda waktu Ashar telah tiba. Aku langsung menuju kamar kecil untuk berwudhu’ dan menunaikan ibadah shalat Ashar. Sehabis shalat tak lupa aku berdoa pada Allah, agar segala impian ku menjadi yang terbaik untukku. Malaikat mengingatkan ku untuk mengulang sebuah pintaku yang sebelumnya, “Berilah kebahagian berikutnya dari lomba menulis itu agar ada yang ku persembahkan untuk Bunda di hari Ibu nanti”. Sebuah harapan yang tumbuh untuk membahagiakan Bunda.



***



    Aku berjalan menuju gerbang UINSU melewati banyak pepohonan yang rindang, bertegur sapa dengan orang-orang yang ku kenal, ditambah lagi dengan angin siang menjelang senja, tentu sangat sepoi-sepoi serasa ingin merebahkan badan. Hingga tiba di gerbang kampus Aku langsung menaiki mobil angkutan umum atau angkot yang menuju loket Bus dengan tujuan Aceh namun perjuangan belum berakhir, Bus yang sesuai target ku sudah terisi dengan para penumpang yang lain, tidak putus asa segera aku menuju loket bus lainnya. Akhirnya satu tiket tujuan Aceh ada untuk ku dengan keberangkatan pada pukul itu juga. Di mobil tak lupa akan pesan Bunda “Jangan berhenti untuk berdzikir dan shalat jangan tinggal.”

      Setengah perjalanan Aku mengecek ponsel yang niatnya ingin ku kabari keluarga bahwa telah sampai Perbatasan antara Aceh dengan Sumatra Utara. Ternyata ada pesan baru berisikan ucapan selamat, “Congratulation kepada para pemenang Romantic Story With Mom …bla..bla..” lomba itu diselenggarakan oleh DEMA FEBI UINSU dalam rangka menyambut Hari Ibu tahun lalu. Wah… Alhamdulillah. Bersyukurku pada sang Khaliq yang mengabulkan pinta isi hati ku waktu itu. Tiada kata yang bisa terucap dari kebahagiaan ini. Terimakasih buat Ayah yang berupaya menurunkan bakat ayah menulis untukku, ini masih dasar sekali Aku harus semakin berusaha lagi dalam menulis, karena Aku pernah melihat pernyataan dari Al-Ghazali “Jika kau bukan anak raja dan bukan ulama besar, maka Menulislah”. Serta berteman baik dengan sekumpulan kertas-kertas, dengan semua jenis buku, serta ingin menjadi bagian dari mereka, karena bagi ku buku adalah guru yang kedua setelah orang tua yang tidak dapat dipisahkan dari setiap individu, seperti pepatah Arab “Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku”. Sekali lagi terimakasih untuk mu Ayah yang ingin anak-anaknya bisa melebihi dirinya karena keberhasilan orang tua itu adalah ketika anak-anaknya bisa lebih unggul darinya. Aku bisa menulis karena Ayah dan Bunda, Aku juga bisa menulis karena adanya buku.


***



     Setiba dikampungku, dengan melihat sebagian daerah digenangi air. Hari-hari terus berjalan, Aku baru merasakan apa yang dialami keluargaku belakangan ini dengan keadaan rumah yang terendam banjir, rasa pahitnya harus mengungsi dan hangatnya ketika berkumpul bersama keluarga setelah sekian lama tersibuk dengan aktivatas masing-masing. Tak terbayangkan bagiku dengan kisah-kisah diluar sana kini terjadi pada keluarga dan lingkungan sekitar ku. Tidak sedikit banyak fasilitas dirumah rusak terkena banjir termasuk buku-buku waktu masa Aliyah ku dulu yang awalnya ingin Aku berikan kepada yang memerlukan tetapi tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Aku hanya berharap penuh dari peristiwa ini agar Aku bisa lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Lebih banyak bersyukur atas segala kenikmatan yang Allah berikan pada kita. Setiap insan pasti merasakan kebahagiaan bisa berteman dengan buku, karena buku memberikan semangat-semangat abstrak dalam melewati kehidupan, tak banyak orang-orang sukses dengan hobinya membaca buku, menulis buku bahkan dikenang sampai akhir hayat pun. Namun semuanya takkan lepas dengan Bu DUIT “Buku, Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakkal. Insya Allah.
Lomba Menulis Cerpen LDK UIN Sumatera Utara Pesta Buku Medan 12-17 Maret 2015 

0 komentar:

Posting Komentar