Senin, 22 Desember 2014

Artikel Hari Ibu

Harapan dari Segala Rasa untuk yang Tercinta
oleh : Intan Fathimi
51141017

“Hari Ibu ? Kapan Hari Ibu itu ? Siapa yang mencetuskannya ? Apa alasan didirikan Hari Ibu ? Bagaimana sejarah Hari Ibu itu ? Kemudian bagaimana cara setiap insan merayakannya ?. Terus saja puluhan pertanyaan menggelayut dipikiran, untuk itu mari kita telusuri kalimat berikut. Sebenarnya jika kembali pada sejarahnya, di Indonesia Hari Ibu di resmikan oleh presiden pertama kita Ir. Soekarno pada tanggal 22 Desember tahun 1953, yang bertepatan denagn ulang tahun Kongres Perempuan Indonesia yang ke-25. Alasan mengapa didirikan Hari Ibu untuk merayakan semangat juangnya pahlawan-pahlawan wanita Indonesia.
Namun di Indonesia sendiri kini Hari Ibu telah keluar jalur dari makna aslinya, yang mana Hari Ibu adalah hari perayaan terhadap perannya seorang ibu dengan kata lain diperingati dalam rangka sebagai ungkapan rasa kasih sayang terhadap seorang ibu, ada yang memberikan kejutan dengan sebuah kado, doa, kue, atau bisa saja menggantikan pekerjaan seorang ibu seperti memasak, menyapu, mencuci pada hari itu. Begitulah cara-cara setiap insan merayaakan Hari Ibu tersebut. Setiap negara Hari Ibu dirayakan menurut ketetapan nasionalnya. Hari Ibu bisa juga berhubungan dengan seorang ayah, karena adakalanya peran seorang ibu jatuh kepada si ayah. Berbicara peran seorang ibu banyak sekali yang dapat dikupas dalam kehidupan sehari-hari, dalam bidang pendidikan dimana seorang ibu suadah menjadi guru sejak anaknya masih dalam kandungan, Ia memberikan arti hidup dan juga rumus kehidupan ini setiap saat yang semuanya itu terkandung dalam Al-Quran, sejak balita pun ibu juga yang mengajarkan huruf demi huruf sehingga kita bisa mengucapkan banyak hal terutama sang Khaliq (Allah), Ibu, bunda, mamak, ayah, abi, kakak, abang atau panggilan-panggilan lainnya.
Seiring pengetahuan dalam bidang ekonomi peran seorang ibu sangatlah berperan aktif dalam mengatur keuangan keluarga, manajer yang menjadikan karyawan anggota keluarganya agar mampu bertahan pada tugas yang dibagikan. Dan juga memanage keuangan keluarga agar tidak terjadi krisis ekonomi dalam sebuah keluarga, memberikan modal pada anak-anaknya sesuai kebutuhan.
Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah Ayat 233 pun Allah telah berfirman yang artinya “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”.
Dari alunan itu kita ketahui bahwa Allah memerintahkan pada seorang ibu untuk merawat anak sejak dini hingga menjadi seorang dewasa yang menempatkan Allah dan Rasul-Nya dalam hati, mencintai membaca Al-quran, serta menpatkan cinta kasih sayang orang tua dalam jiwanya. Maka dari itu sudah menjadi kewajiban kita berkelakuan baik terhadapnya, yang telah mengajari arti kehidupan, pemberi semangat dan motivasi dalam melawan arus kehidupan ini.”

***
“Tika aku mulai terbaring melirik lugu sana-sini ruang putih itu
berteriak-teriak meminta tolong, Dimana aku? Ruang apa ini?
Kenapa tiba-tiba aku kedinginan? Dimana kehangatan selama ini?
Lantas ku dibawa pada sesorang wanita sederhana,
diberinya kehangatan layaknya tempat ku dulu,
diberinya susu yang sepuasnya bisa kuminum,
begitu baik padaku padahal aku tak mengenalnya.
Terus saja puluhan pertanyaan bergelayut di pikiran
Hingga ku tersadar, wanita sederhana itu ialah Bidadari Titipan Tuhan untukku
yang selama ini aku makan minum bersamanya,
yang mengerjakan shalat dan mengaji bersamanya,
yang dulu selama sembilan bulan dikandungnya.
“Nak, sekarang kita di dunia nyata milik produser dan sutradara professional kita, Dia mengizinkan kita untuk bertemu secara nyata karena kita telah lulus melewati ujian maut, kita berhasil.”
Aku menangis tersedu-sedu.
Terimakasih bidadariku, aku ditemani, dijaga serta banyak hal yang diajarkan tentang hidup ini.
Cinta, kasih dan sayang tak pernah ku rasakan lebih indah melainkan darinya, keikhlasan hatinya yang rela bangun di sepertiga malam karena tak sanggup melihatku menangis menahan rasa sakit.
Baginya air mata ku menjadi air matanya, ia pemberi semangat luar biasa.
Semua yang terjadi di setiap detik yang ku lalui dalam hidup ini menjadi file permanen di hatiku, tak pernah dapat terhapuskan dari memori ingatanku, tak ada bahasa yang terucapkan selain doa agar tuhan selalu menjaganya.”
Tak sadar malam itu, lembaran kertas telah berisikan sepucuk puisi dan sebukit opini yang bertemakan tentang Ibu, pengalaman kali ini sedikit berbeda dari biasanya, bukan niat meninggalkan hobby menulis puisi hanya saja target utamannya mengarahkan ke opini, karena bagi pencinta sastra dunia tulis menulis itu tak hanya sebatas menulis puisi saja, banyak bentuk  sastra lainnya yang bisa dijadikan sebuah karya.
Terlirik jam menunjukkan malam telah larut. Saatnya mengakhiri tulis menulis untuk malam itu. “Semoga tulisan malam ini menjadi kebahagiaan selanjutnya setelah puisi perdana ku dibukukan tahun lalu”. Sebuah harapan terucap yang mengakhiri kegiatan ku dalam mengerjakan tugas final pada malam itu. Selanjunya akan setia menunggu hasilnya, apapun itu, setidaknya aku telah mencurahkan segala rasa untuk yang tercinta.

0 komentar:

Posting Komentar