PERSPEKTIF
HADITS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS UIN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahnya kami bisa
menyelesaikan karya ilmiah dengan judul “Perspektif Hadist dalam Meningkatkan
Kualitas UIN”.
Selawat
berangkaikan salam tidak luput kita sanjung sajikan kepangkuan Nabi besar
Muhammad SAW. Yang telah mengiringi kehidupan dari zaman kebodohan hingga zaman
yang penuh ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Adapun maksud
dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengikuti lomba Karya ilmiah
porseni di Ma’had Al-jamiah UIN Sumaterea Utara serta untuk memperdalam
pengetahuan dalam meningkatkan kualitas Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
yang sesuai dengan perspektif Hadits.
Kami menyadari
bahwa karya tulis ilmiah ini jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu kritik dan
saran sangat kami tunggu. Kami berharap semoga karya tulis ilmiah ini bisa
bermanfaat bagi pembaca. Aamiin.
Medan, Mei 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Berbagai upaya
terobosan tengah dilakukan oleh pemerintah dewasa ini berkaitan dengan mencari
serta mengembangkan potensi-potensi yang seharusnya dikuasai oleh pendidik,
yang bertindak sebagai Sumber Daya Manusia yang menjembatani perkembangan ilmu
pengetahuan dan juga teknologi yang harus di transfer kepada peserta didik guna
mengembangkan bakat, minat serta potensi yang dimiliki peserta didik sehingga
kelak mampu mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai potensi yang dikuasai
sehingga pembangunan pendidikan nasional dapat terwujud dengan sempurna karena
di isi oleh generasi muda yang berkualitas.
Hal ini bahwa
pembangunan sumber daya manusia mempunyai peranann yang sangat penting bagi
kesuksesan dan keseimbangan pembangunan nasional yang telah digariskan,
pembangunan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prioritas
yang harus diperhatikan dan dirancang sedemikian rupa serta berdasarkan
pemikiran yang matang untuk mengimbangi lajunya perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi informasi yang mendunia. Pendidikan memiliki peranan yang sangat
vital serta merupakan suatu wadah yang sangat tepat di dalam upaya peningkatan
kualitas sumber daya manusia serta harus menjadi prioritas secara optimal dan
berkesinambungan.
Sehubungan
dengan visi, misi, serta tujuan berdirinya UIN SU yang terus berupaya menjadi
pusat keunggulan pengkajian, penerapana ilmu pengetahuan baik itu dalam bidang
teknologi maupun seni yang berdasarkan nilai-nilai islam, melakukan pendidikan
dan pengajaran berstandar tinggi dalam disiplin ilmu secara multi dan trans
disipliner berdasarkan nilai-nilai islam, maka dalam meningkatkan kualitasnya butuh
kesatuan untuk membentuk Universitas yang bernilai islam ini menjadi lembaga
yang berkualitas tinggi serta berakreditas Nasional dan Internasional.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1.2.1
Bagaimana hubungan Hadist terhadap UIN ?
1.2.2
Bagaimana tujuan meningkatkan
kualitas UIN dalam Perspektif Hadist?
1.2.3
Bagaimana pengaruh
Hadist dalam meningkatkan kualitas UIN?
1.2.4
Bagaimana proses peningkatan
kualitas UIN sesuai Perspertif Hadist?
1.3
TUJUAN
PENULISAN
1.3.1
Untuk mengetahui bagaimana hubungan Hadist terhadap
UIN.
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana tujuan meningkatkan kualitas UIN dalam perspektif hadist.
1.3.3
Untuk mengetahui sejauh
mana pengaruh Hadist dalam meningkatkan kualitas UIN.
1.3.4 Untuk mengetahui bagaimana proses peningkatan
kualitas UIN sesuai Perspektif Hadist.
1.4
METODE
PENULISAN
Metode
penulisan yang kami tulisan ada dari pengamatan kondisi di lapangan, membaca
buku pendukung dan mencari di Internet.
1.5
SISTEMATIKA
PENULISAN
BAB II PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELANG
MASALAH
1.2 PERUMUSAN
MASALAH
1.3 TUJUAN
PENULISAN
1.4 METODE
PENULISAN
1.5 SISTEMATIKA
PENULISAN
BAB II KAJIAN TEORI
2.1
BAGAIMANA HUBUNGAN HADIST TERHADAP UIN
2.2
BAGAIMANA TUJUAN MENINGKATKAN
KUALITAS UIN DALAM PERSPEKTIF HADITS?
2.3
BAGAIMANA PENGARUH
HADIST DALAM MENINGKATKAN KUALITAS UIN?
2.4
BAGAIMANA PROSES PENINGKATAN
KUALITAS UIN SESUAI PERSPERTIF HADIST?
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN
DAFTAR
PUSTAKA
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 HUBUNGAN
HADIST TERHADAP UIN
A. Pengertian Hadits
Secara etimologis, hadits ialah al-jadid (yang baru) atau
al-khabar (berita) Al-qorib (dekat). Secara terminologis, hadits berarti segala
sesuatu yang diberitakan oleh Nabi Muhammad SAW. baik berupa sabda,
perbuatan, taqrir, sifat-sifat dan hal-ihwal Nabi.[1]
B. Hubungan Hadits dengan Ilmu dan Pendidikan
Melihat dari matan hadits tersebut yang menceritakan
tentang kebaikan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya dengan jalan menuntut
dan mendalami ilmu-ilmu agama sehingga manusia diberi Allah pemahaman tentang
agamanya. Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi muslim, dalam artian bahwa
ilmu-ilmu yang bermanfaat dan membawa kemaslahatan dan manfaat bagi dirinya
sendiri dan orang lain. Dengan ilmu derajat manusia bisa terangkat dan mulia
seperti yang di ungkapkan dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 yang
artinya niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah
yaitu, “Tidak mungkin suatu perbuatan menjadi amal saleh jika orang yang
melakukannya tidak berilmu dan paham atas apa yang ia lakukan”. Pengertian ilmu
yang dikemukakan oleh Ibu Taimiyah mencakup ilmu tentang kebaikan dan
kemunkaran itu sendiri, yakni bisa membedakan antara keduanya dan berilmu
tentang hal-hal yang diperintah dan yang dilarang oleh agama (Al-Quran dan
hadits). Sedangkan Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Barangsiapa yang beribadah
kepada Allah tanpa ilmu, maka apa yang dirusaknya lebih banyak dari apa yang
diperbaikinya”. lebih lanjut hadits Mu’adz Bin Jabal Rasulullah Saw bersabda,
‘Ilmu adalah imam amalan, dan amalan mengikutinya.’ Sesungguhnya niat dan
amalan jika tidak berlandaskan ilmu maka itu adalah kebodohan, kesesatan dan
mengikuti hawa nafsu dan inilah perbedaan antara orang-orang jahiliyah dan
orang-orang Islam,”
Kata “Kebaikan” dalam hadits ini adalah manivestasi
dari ilmu, karena ilmu mendatangkan kebaikan bagi orang yang menuntutnya. Untuk
memperoleh ilmu tentunya dengan proses pendidikan yang harus ditempuh oleh para
penuntut ilmu. Dalam khazanah keilmuan dikenal dua istilah yang cukup populer
yaitu pendidikan dan pengajaran.“pada umumnya
pendidikan lebih menekankan pada aspek dalam diri manusia, sedangkan pengajaran
lebih banyak bersentuhan dengan aspek luar”. Lebih lanjut Zakiyah Deradjat
menyebutkan ada tiga landasan utama dalam pendidikan Islam. Pertama :
Al-Qur’an, kedua : As-Sunnah, ketiga : Ijtihad.
Dalam kenyataannya, banyak orang yang berilmu, maka
perilakunya akan baik, ahlaknya baik dan lebih tenang, dalam arti lain dalam
menghadapi hidup ini tidak menjadi beban baginya, karena mereka tahu bahwa
dengan ilmu hidup lebih mudah dan meyakinkan. Dalam kaitan inilah hadits tersebut
menyatakan bahwa orang yang memiliki ilmu akan di beri Allah kebaikan, kebaikan
dalam agamanya, hidupnya dan urusan dunianya.
Penjelasan Singkat
Muhammad Fadil al-Jamaly (Guru Besar Pendidikan di
Universitas Tunisia) mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang mengarahkan
manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya,
sesuai dengan kemampuan dasar atau fitrah dan kemampuan ajarannya (pengaruh
dari luar). Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 78:
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ
لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Ayat ini mengindikasikan kepada kita bahwa ketika kita
dilahirkan tidak mengetahui sesuatu apapun. Maka Allah ciptakan pada diri
manusia pendengaran, penglihatan dan hati, ini semua untuk membantu manusia
dalam proses pendidikan. Tanpa melalui pendidikan manusia tidak mengetahui
apa-apa. Dengan pendidikanlah manusia bisa mengetahui tentang segala
sesuatu terutama tentang kebesaran Allah SWT.
Firman Allah dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ
مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini menjelaskan kepada kita untuk selalu membaca
dan belajar. Proses belajar dan membaca hanya banyak dilakukan ketika manusia
melakukan proses pendidikan. Sehingga dengan banyak membaca, manusia lebih
dekat dengan Allah SWT dan banyak mengetahui tentang ciptaan-Nya terutama
tentang proses penciptaan alam semesta ini. Pendidikan merupakan salah satu
media yang paling utama untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT
karena inti pendidikan itu adalah mendekatkan diri kepada-Nya.
Pendidikan berusaha mengembangkan potensi individu
agar mampu berdiri sendiri, untuk itu individu perlu diberi berbagai kemampuan
dalam pengambangan berbagai hal, seperti konsep, prinsip, kreaktivitas,
tanggungjawab, dan keterampilan. Tujuan pendidikan dalam pandangan islam harus
mampu menciptakan manusia yang berilmu pengetahuan yang tinggi, dimana iman dan
taqwa menjadi pengendali dalam pengamalan ilmunya di masyarakat. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW :
مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ
بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ
اَرَادَهُمِا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ )
“Barang siapa yang menginginkan kebehagiaan hidup di dunia
maka hendaklah ia berilmu, dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan hidup
di akhirat maka hendaklah ia berilmu, dan barang siapa yang menghendaki
kedua-duanya maka hendaklah ia berilmu.”
Hadis diatas menjelaskan tentang pentingnya
pendidiakan bagi umat manusia. Ilmu pengetahuan merupakan bekal kita untuk
hidup di dunia dan di akhirat. Tujuan dari proses pendidikan adalah untuk
kesempurnaan dan kemuliaan manusia itu sendiri.
2.2
TUJUAN MENINGKATKAN
KUALITAS UIN DALAM PERSPEKTIF HADIST
A.
Pendidikan
Berorientasi Futuristik
Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan bangsa.
Orientasi secara
etimologi berasala dari kata orient ang berarti arah, dan sering digunakan
untuk kata tujuan. Kata Futuristik adalah kata sifat yang berasal dari kata
future (Inggris) yang berarti masa depan atau masa depan yang berharapan baik.
Walaupun masa depan belum diketahui atau terjadi namun ia merupakan tujuan dan
sasaran dari aktifitas-aktifitas masa kini.
Jadi dapat disimpulkan
bahwa Pendidikan
Berorientasi Futuristik adalah usaha yang dilakukan untuk mengembangkan potensi
kognitif, afektif, da psikomotor. Peserta didik yang diarahkan pada
kehidupannya dengan melihat perubahan-perubahan lingkungan dan masalah-masalah
yang akan dihadapinya kini dan masa depan.
B.
Pendidikan Berorientasi Futuristik
yang Terkandung dalam QS. Al-Baqarah Ayat 31
وَعَلَّمَ
آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ
أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang
orang-orang yang benar!"
Allah
mengajarkan nama-nama tersebut kepada Adam As. untuk dipersiapkan menghadapi
malaikat dan jin. Dari hal tersebut Allah Swt telah memberikan pengetahuan
kepada Adam utuk nantinya memenangkan sayembara dengan malaikay dan iblis. Allah
SWT mengajarkan nama-nama benda seluruhnya hanya pada Adam As. sebelum ia
menjadi khalaifah dibumi. Allah juga telah mempersiapkan adam dengan diberi
pembekalan (Ilmu Pengetahuan) untuk nantinya mnjadi khalifah di bumi. Karena
pengajaran yang diberikan oleh Allah kepada Adam As adalah proses pembekalan
sebelum Adam dijadikan khalifah dibumi.
Maka
dari itu dalam mendidik hendaknya harus mengarahkan pembelajaran yang sesuai
dengan kebutuhan anak atau sesuai dengan zamannya dan memperkirakan tipe
masalah yang harus dihadapi oleh peserta didik dimasa yang akan datang. Untuk
itulah seorang pendidik harus pandai dalam memprediksi gejala-gejala yang akan
timbul dimasa depan nanti, materi-materi dari bahan pembelajaran dapat
dikaitkan dengan problema tersebut. Sebagaimana Umar bin Khatab, seorang bijak
yang hidup di abad ke 7 masehi, memberikan pernyataan yang sangat terkenal : “Didiklah
anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”
مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ
بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ
اَرَادَهُمِا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ )
“Barangsiapa yang menghendaki
kebaikan di dunia maka dengan ilmu. Barangsipa yang menghendaki kebaikan di
akhirat maka dengan ilmu. Barangsiapa yang menghendaki keduanya maka
dengan ilmu” (HR. Bukhori dan Muslim)
2.3
BAGAIMANA PENGARUH
HADIST DALAM MENINGKATKAN KUALITAS UIN
Hadist Nabi merupakan sumber ajaran Islam
yang kedua setelah Alquran. Hadis Nabi, sebagaimana Alquran menjadi pedoman
hidup (way of life) bagi umat Islam. Rasulullah menjamin keselamatan
bagi mereka yang konsisten dan konsekuen merujuk segala tindakannya kepada
Alquran dan Hadist. Rasulullah bersabda :
و حَدَّثَنِي عَنْ
مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَتَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا
كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه
Artinya:
"Telah menceritakan
kepadaku Malik, sesungguhnya ia menyampaikan kepadanya bahwa Rasulullah SAW
bersabda,: " Aku tinggalkan kepadamu dua perkara (pusaka) tidaklah kamu
akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu
Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya"
(H.R. Malik)[2]
Abuddin Nata mencatat paling tidak ada empat alasan
tentang pentingnya menghubungkan kajian pendidikan dengan Hadits, yaitu:
Pertama, Nabi Muhammad SAW dinyatakan dalam Alquran sebagai suri tauladan yang
baik bagi ummatnya. Sebagai suri tauladan, berarti termasuk pula suri tauladan
dalam hal mendidik. Kedua, zaman Rasulullah adalah zaman yang telah berhasil
melahirkan generasi yang memiliki keunggulan di bidang moral, sikap keagamaan,
kepribadian, intelektual, dan social. Ketiga, Rasulullah diakui sebagai di dalam
Alquran sebagai pendidik. Keempat, Di dalam hadisnya, beliau menyatakan bahwa
kehadirannya di muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (bu'itstu
liutammima makarim al-akhlaq). Pembemtukan ahklak mulia itu selanjutnaya
menjadi tujuan dan jiwa pendidikan Islam.[3]
2.4
PROSES PENINGKATAN KUALITAS UIN SESUAI PERSPEKTIF
HADIST
Dilihat berdasarkan preses bagaimana cara pendidik dalam tahapan
peningkatan kualitas UIN
A.
Pembicaraan Harus Jelas Dan Bila Perlu Diulang
عَنْ عَائِشَةَ رَحِمَهَا اللّهُ قَالَتْ كَانَ كَلاَمُ
رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلاَمًا فَصْلاً يَفْهَمُهُ
كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ (رواه ابو داود)
Dari Aisyah Rahimahallah berkata, sesungguhnya
perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, dan dapat memahamkan
orang yang mendengarkannya. (HR. Abu Dawud)
Pembahasan :
Didalam hadist tersebut dijelaskan diantara sifat
ucapan Rasulullah SAW adalah sangat jelas dan mudah dipahami oleh orang yang
mendengarkanya. Oleh karenanya, Rasulullah SAW mengucapkan sesuatu kepada
seseorang menggunakan gaya dan bahasa dengan kemampuan dya tangkap pemikiran
orang yang sedang diaajak bicara oleh beliau.
Analisis :
Didalam hadist diatas, pendidik mempunyai peranan
penting dalam proses pembelajaran yaitu proses penyampaian materi yang akan
disampaikan kepada para murid. Dengan perkataan yang jelas dan mudah dipahami
proses penyampaian pesan dapat diterima dengan baik oleh para murid. Perkataan
yang jelas dalam hal ini bukan hanya sekedar jelas. Namun lebih dari itu
“jelas” disini adalah mampu memahamkanm peserta didik yang dihadapinya.
Perkataan yang jelas dan mudah dipahami akan menjadi
salah satu factor keberhasilan pendidikan. Diharapkan dengan adanya perkataan
yang jelas dan mudah dipahami tersebut anak didik akan dapat menyerap dan
memahami apa yang disampaikan pendidik.
حَدَّثَنَا عَبْدَةُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ
قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا وَإِذَا تَكَلَّمَ
بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada
kami Abdah berkata, Telah menceritakan kepada
kami Abdushshamad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah
bin Al Mutsanna berkata; Tsumamah bin Abdullah telah
menceritakan kepada kami dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila memberi salam,
diucapkannya tiga kali dan bila berbicara dengan satu kalimat diulangnya tiga
kali. (HR. Imam Bukhori)
Pembahasan :
Ada perbedaan pendapat apakah salam termasuk syarat
dalam meminta izin untuk memasuki rumah atau tidak ? Imam Maziri berkata :
bentuk permintaan izin ialah dengan cara mengucapkan “Assalammua’alaikum,
apakah boleh masuk?” kemudian ia boleh memilih antara menyebutkan namanya atau
hanya mengucapkan salam saja.
Imam Isma’il berkomentar bahwa salam itu dilakukan
secara berulang-ulang ketika meminta izin, salam dilakukan secara
berulang-ulang pada sekumpulan orang banyak yang sebagian orang belum
mendengar, begitu juga ia mengucapkan salam dan dia menyangka orang pemilik
rumah belum mendengar maka disunahkan mengulanginya kembali dua atau tiga kali.
Ada perbedaan pendapat mengenai seseorang yang mengucapkan salam tiga kali dan
menyangka kalau pemilik rumah belum mendengar, menurut Imam Malik seseorang
harus menambah salamnya sapai pemilik rumah mendengarnya, kebanyakan ulama’ dan
penganut madzhab Imam Maliki berpendapat tidak boleh menambah salam karena
mengikuti dhohirnya hadist.
Analisis :
Dalam hadist diatas Rasulullah SAW menggunakan
pengulangan dengan kalimatوَإِذَا
تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا Hadist ini mengindikasikan bahwa pengajaran memerlukan
banyak pengulangan. Pengulangan bahan yang telah dipelajari akan memperkuat
hasil belajar.. Nabi Muhammad SAW ketika menerima wahyu yang pertama dalam
keadaan “meniru dan mengulang” apa yang disampaikan oleh Jibril.
Oleh karena itu, hendaknya para pendidik sesudah
materi disampaikan kepada peserta didik diharapkan untuk melakukan pengulangan
kembali. Hal ini dimaksudkan untuk mempertinggi penguasaan peserta didik
terhadap materi yang sudah diterima. Demikian juga halnya sebelum memberikan
materi yang baru, hendaknya para pendidik melakukan pengulangan kembali
terhadap materi sebelumnya hal ini bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada
peserta didik tentang materi sebelumnya dan juga agar materi yang sebelumnya
tidak hilang begitu saja.
B.
Metode peragaan dan demonstrasi
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ اليَتِيْمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا
وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى
(رواه مسلم)
Artinya: ”Dari Abu Hurairah
berkata, Rasulullah SAW bersabda : ” Aku akan bersama orang-orang yang menyantuni
anak yatim di surga akan seperti ini (Rasulullah menunjukkan dua jari, jari
telunjuk dan tengah yang saling menempel)”.(HR. Muslim bin al-Hijaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburi)[4]
Pembahasan :
Dari hadist diatas yang dimaksud dengan
( كَافِلُ اليَتِيْمِ) adalah mencukupi segala kebutuhannya mulai dari nafakah,
pakaian, pendidikan sekolah dan bertanggung jawab atas baik buruknya adabnya.
Hal yang demikian ini mendapatkan keuatamaan baik dari hartanya sendiri maupun
harta anak yatimtersebut dengan menjadi walinya ini.
Maksud dari أَوْ
لِغَيْره yaitu orang
terdekatnya seperti kakek, nenek, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan,
paman dari ayah, paman dari ibu bibi dari ibu dan orang lain.
Analisis :
Pada hadist diatas menerangkan tentang hubungan
kedekatan Rasulullah dengan orang yang memelihara anak yatim. Rasulullah SAW
mendemonstrasikan juga dengan jari beliau. Beliau menerangkan kepada para
sahabat bahwa kedudukan beliau dengan orang yang memelihara anak yatim di surga
begitu dekat, seperti kedekatan jari tengah dan jari telunjuk.
Dalam dunia pendidikan sekarang ini, para pendidik
dianjurkan sekali untuk bisa meneladani Rasulullah SAW dalam menjelaskan
pelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam metode pengajarannnya. Metode
peraga ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan media pendidikan. Media
pendidkan adalah suatu benda yang dapat dindrai, khususnya penglihatan dan
pendengaran baik yang terdapat dalam maupun luar kelas yang digunakan sebagai
alat bantu penghubung dalam proses pembelajaran. Media pendidikan bertujuan
untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa. Media pendidikan mengandung
beberapa beberapa aspek-aspek yaitu sebagai alat atau sebagai teknik yang
berkaitan erat dengan metode pengajaran.
عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ
أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ
مُتَقَارِبُوْنَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِيْنَ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ
رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيْمًا رَفِيْقًا فَلَّمَا
وَظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا
عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ
فَأَقِمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ وَذَ كَرَ أَشْيَاءَ
أَحْفَظُهَا أَوْلاَ أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي
فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدَكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ
أَكْبَرُ كُمْ (رواه البخارى)
Dari Abi Qilabah katanya hadist dari Malik. Kami
mendatangi Rasulullah SAWDan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama
beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah SAW adalah seorang yang
penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang
dan rindu pada keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami
tinggalkan dan kami memberitahukannya, beliau bersabda : kembalillah bersama
keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka,
beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan
shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Imam Bukhari)
Pembahasan :
Hadist ini sangat jelas menunjukkan tata cara shalat
Rasulullah kepada sahabat. Sehingga para sahabat dipesankan oleh Rasulullah
agar shalat seperti yang dicontohkan olehnya.
Maksud dari hadist diatas adalah mengenai metode
peragaan yang terdapat didalam kalimat hadist terakhir yaitu “ Dan shalatlah
sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Dan apabila telah datang waktu shalat,
maka adzanlah salah satu diantara kalian. Dan yang paling tua diantara kalian
jadikanlah imam
Analisis :
Dari penjelasan
diatas telah dijelaskan bahwa Rasulullah melakukan metode demonstrasi tentang
tata cara shalat kepada sahabatnya. Hal dimaksudkan unntuk memperjelas tentang
bagaimana tata cara shalat yang sesuai dengan Rasulullah.
Metode
demonstrasi adalah metode pembelajaran yang menggunakan peragaan untuk
memperjelas suatu pengertian atau bagaiman memperlihatkan sesuatu kepada
peserta didik. Metode demonstrasi ini dilakukan bertujuan agar pesan yang
disampaikan oleh pendidik dapat dikerjakan dengan baik dan benar oleh peserta
didik.
C.
Metode
cerita atau kisah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ
رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي
فَشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ
فَإِذَا وَهُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَـأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ
لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلاَ حُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ
بِفِيْهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لّهُ فَغَفَرَ لَهُ
قَالُوْا يَارَسُوْلُ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي البَهَائِمِ أَجْرًا قَالَ فِي
كَلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرُ (رواه البخارى)
Dari Abu Hurairah r.a, Ia berkata sesungguhnya
Rasululllah SAW bersabda : “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan-jalan
tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali kemudian ia menemukan sumur lalu ia
masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba
datang seekor anjing menjulur-julurkan lidahnya ia menjilati tanah karena
sangat haus, lelaki itu berkata : anjing itu sangat haus sebagaimana aku,
kemudian masuk kesumur lagi dan ia penuhi sepatunya (dengan air), kemudian ia
(haus lagi) sambil menggigit sepatunya dan ia beri minum anjing itu kemudian
Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni, sahabat bertanya wahai Rasulullah:
adakah kita mendapat pahala karena kita menolong hewan ? Nabi SAW menjawab :
disetiap yang mempunyai limpa basah ada pahalanya”. (HR.Imam Bukhori)
Pembahasan :
Ketika seorang laki-laki sedang berjlan tiba-tiba ia
merasa sangat haus sekali, kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya
dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba datang seekor anjing
menjulur-julurkan lidanya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu
berkata: anjing itu sangat haus sebagaimana aku, kemudian masuk ke sumur lagi
dan ia penuhi sepatunya (dengan air), kemudian ia (haus lagi) sambil mengigit
sepatunya dan ia beri minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan
mengampuninya.
Menurut Abdullah bin Dinar Allah memasukkan lelaki
tersebut ke surga. Dari hadist ini mengajarkan kepada kita senantiasa saling
menyayangi sesama makhluk Allah meskipun pada hewan yang diharamkan.
Analisis :
Hadist diatas menjelaskan bahwa pendidikan dengan
metode cerita dapat menumbuhkan kesan yang mendalam pada anak didik, sehingga
dapat memotivasi anak didik untuk berbuat yang baik dan menjauhi hal yang
buruk. Bahkan kaedah ini merupakan metode yang menarik yang mana sering
dilakukan oleh Rasulullah dalam menyamapaikan ajaran islam. Teknik ini menjadikan
penyampaian dari Rasulullah menarik sehingga menimbulkan minat dikalangan para
sahabatnya.
Teknik bercerita ini adalah salah satu teknik yang
baik untuk menerapkan aspek pembangunan insan karena didalamnya mencakup
seluruh metodologi pendidikan yaitu pendidikan mental, akal, jasmani serta
unsur-unsur yang ada dalam jiwa seseorang, pendidikan itu melalui teladan dan
nasehat. Bukti terbaik dari metode ini adalah bagaimana setengah dari isi
kandungan Al-Qur’an adalah tentang cerita atau kisah dalam penyamapaian
ajarannya.
D. Metode tanya jawab dan diskusi
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا
أَوْمَظْلُوْمًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلُ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ
مَظْلُوْمًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ
تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهٌ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ (رواه
البخارى)
Artinya: Dari Anas bin Malik ra, ia berkata:
Rasulullah telah bersabda: tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang
didhalimi. Mereka bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana menolong orang dzalim?,
Rasulullah menjawab tahanlah (hentikan) dia dan kembalikan dari kedzaliman,
karena sesungguhnya itu merupakan pertolongan kepadanya.(HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori
al-Ju’fi)[5]
Hadist ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW
menganjurkan kepada kita untuk menolong orang yang dzalim dan yang didzalimi.
Anas berkata ia telah menolong orang yang didzalimi, kemudian ia berkata kepada
Rasulullah bagaimana cara menolong orang yang dzalim? Rasul pun menjawab untuk
menghentikannya dan mengembalikannya dari kedzaliman. Diskusi terdapat pada
permasalahan bagaimana cara menghentikan orang dzalim tersebut dan
mengembalikan dia dari kedzalimannya.[6]
Diskusi pada dasarnya tukar menukar informasi,
pendapat dan unsur-unsur penaglaman, secara teratur dengan maksud untuk
mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu,
atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu
diskusi bukan debat atau perang mulut. Dalam diskusi tiap orang diharapkan
memberikan smbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan paham yang dibina
bersama.[7]
BAB III
PENUTUPAN
3.1 KESIMPULAN
Dalam meningkatkan kualitas UIN membutuhkan dukungan
dari semua pihak seperti Rektor, dosen, orang tua, masyarakat,dan yang paling
utama dari mahasiswa yang menjadi tokoh utama dalam meningkatkan kualitas UIN. Dan
mengaplikasikan serta menjadikan Rasulullah sebagai inspirasi dan motivasi
dalam kehidupan sehari-hari. Hadits-hadits yang telah disebutkan juga
merupakan bukti sahih keberhasilan beliau dalam dunia pendidikan.
3.2 SARAN
Diharapkan
kepada pembaca untuk mengetahui dan mengamalkan apa yang tercantum dalam karya
ilmiah ini. Dan juga diwajibkan kepada pembaca untuk menggunakan Al-Quran dan
Hadits sebagai landasan karena hal itu ikut menentukan corak dan bentuk amal
ibadah dalam kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun makhluk sosial, yang
sekaligus pendidikan tersebut mendukung tujuan hidup manusia sesuai dengan isi
Al - Quran dan Hadits.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Pendidikan dalam Persfektif Hadis, cet. I , (
Jakarta : UIN Jakarta Press, 2005).
Ahmadi Toha, Terjemah Sahih Bukhori, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986).
Dr. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 1995).
Malik bin Anas, Muwaththa', cet. I, juz V, ( t.t :
Maktabah Zayid bin Sulthan Ali Nabhan, t.th).
Sutoyo
dkk, Alquran hadits untuk madrasah aliyah semester 2 kelas X(Surakarta,CV
Pratama,2010)
Suyudi,
M. 1999. Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an. Yogyakarta :
Penerbit Mikraj
Zuhairini. Filsafat
pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
[1] Sutoyo
dkk, Alquran hadits untuk madrasah aliyah semester 2 kelas X,Surakarta,CV
Pratama,2010, hlm. 2-3.
[2] Malik bin Anas, Muwaththa', cet. I, juz V, ( t.t : Maktabah
Zayid bin Sulthan Ali Nabhan, t.th), hlm. 1323.
[3] Abuddin Nata, Pendidikan dalam Persfektif Hadis, cet. I , (
Jakarta : UIN Jakarta Press, 2005), hlm. 13-22.
[7] Dr. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 1995), hlm. 80.