Jumat, 15 Mei 2015

Lomba Karya Ilmiah - UIN DAN HADITS


PERSPEKTIF HADITS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS UIN

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahnya kami bisa menyelesaikan karya ilmiah dengan judul “Perspektif Hadist dalam Meningkatkan Kualitas UIN”.
Selawat berangkaikan salam tidak luput kita sanjung sajikan kepangkuan Nabi besar Muhammad SAW. Yang telah mengiringi kehidupan dari zaman kebodohan hingga zaman yang penuh ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Adapun maksud dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengikuti lomba Karya ilmiah porseni di Ma’had Al-jamiah UIN Sumaterea Utara serta untuk memperdalam pengetahuan dalam meningkatkan kualitas Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang sesuai dengan perspektif Hadits.
Kami menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu kritik dan saran sangat kami tunggu. Kami berharap semoga karya tulis ilmiah ini bisa bermanfaat bagi pembaca. Aamiin.



Medan, Mei 2015



          Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Berbagai upaya terobosan tengah dilakukan oleh pemerintah dewasa ini berkaitan dengan mencari serta mengembangkan potensi-potensi yang seharusnya dikuasai oleh pendidik, yang bertindak sebagai Sumber Daya Manusia yang menjembatani perkembangan ilmu pengetahuan dan juga teknologi yang harus di transfer kepada peserta didik guna mengembangkan bakat, minat serta potensi yang dimiliki peserta didik sehingga kelak mampu mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai potensi yang dikuasai sehingga pembangunan pendidikan nasional dapat terwujud dengan sempurna karena di isi oleh generasi muda yang berkualitas.
Hal ini bahwa pembangunan sumber daya manusia mempunyai peranann yang sangat penting bagi kesuksesan dan keseimbangan pembangunan nasional yang telah digariskan, pembangunan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prioritas yang harus diperhatikan dan dirancang sedemikian rupa serta berdasarkan pemikiran yang matang untuk mengimbangi lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang mendunia. Pendidikan memiliki peranan yang sangat vital serta merupakan suatu wadah yang sangat tepat di dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta harus menjadi prioritas secara optimal dan berkesinambungan.
Sehubungan dengan visi, misi, serta tujuan berdirinya UIN SU yang terus berupaya menjadi pusat keunggulan pengkajian, penerapana ilmu pengetahuan baik itu dalam bidang teknologi maupun seni yang berdasarkan nilai-nilai islam, melakukan pendidikan dan pengajaran berstandar tinggi dalam disiplin ilmu secara multi dan trans disipliner berdasarkan nilai-nilai islam, maka dalam meningkatkan kualitasnya butuh kesatuan untuk membentuk Universitas yang bernilai islam ini menjadi lembaga yang berkualitas tinggi serta berakreditas Nasional dan Internasional.

1.2  RUMUSAN MASALAH          

1.2.1        Bagaimana hubungan Hadist terhadap UIN ?
1.2.2        Bagaimana tujuan meningkatkan kualitas UIN dalam Perspektif Hadist?
1.2.3        Bagaimana pengaruh Hadist dalam meningkatkan kualitas UIN?
1.2.4        Bagaimana proses peningkatan kualitas UIN sesuai Perspertif Hadist?

1.3  TUJUAN PENULISAN

1.3.1        Untuk mengetahui bagaimana hubungan Hadist terhadap UIN.
1.3.2    Untuk mengetahui bagaimana tujuan meningkatkan kualitas UIN dalam perspektif hadist.
1.3.3        Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh Hadist dalam meningkatkan kualitas UIN.
1.3.4        Untuk mengetahui bagaimana proses peningkatan kualitas UIN sesuai Perspektif Hadist.

1.4  METODE PENULISAN

Metode penulisan yang kami tulisan ada dari pengamatan kondisi di lapangan, membaca buku pendukung dan mencari di Internet.

1.5  SISTEMATIKA PENULISAN

BAB II PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELANG MASALAH
1.2  PERUMUSAN MASALAH
1.3  TUJUAN PENULISAN
1.4  METODE PENULISAN
1.5  SISTEMATIKA PENULISAN
BAB II KAJIAN TEORI
2.1  BAGAIMANA HUBUNGAN HADIST TERHADAP UIN
2.2  BAGAIMANA TUJUAN MENINGKATKAN KUALITAS UIN DALAM PERSPEKTIF HADITS?
2.3  BAGAIMANA PENGARUH HADIST DALAM MENINGKATKAN KUALITAS UIN?
2.4  BAGAIMANA PROSES PENINGKATAN KUALITAS UIN SESUAI PERSPERTIF HADIST?
BAB III PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
3.2  SARAN
DAFTAR PUSTAKA




BAB II
KAJIAN TEORI

2.1  HUBUNGAN HADIST TERHADAP UIN
A.    Pengertian Hadits
            Secara etimologis, hadits ialah al-jadid (yang baru) atau al-khabar (berita) Al-qorib (dekat). Secara terminologis, hadits berarti segala sesuatu yang diberitakan oleh Nabi Muhammad SAW. baik  berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat dan hal-ihwal Nabi.[1]

B.     Hubungan Hadits dengan Ilmu dan Pendidikan
Melihat dari matan hadits tersebut yang menceritakan tentang kebaikan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya dengan jalan menuntut dan mendalami ilmu-ilmu agama sehingga manusia diberi Allah pemahaman tentang agamanya. Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi muslim, dalam artian bahwa ilmu-ilmu yang bermanfaat dan membawa kemaslahatan dan manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dengan ilmu derajat manusia bisa terangkat dan mulia seperti yang di ungkapkan dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 yang artinya niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah yaitu, “Tidak mungkin suatu perbuatan menjadi amal saleh jika orang yang melakukannya tidak berilmu dan paham atas apa yang ia lakukan”. Pengertian ilmu yang dikemukakan oleh Ibu Taimiyah mencakup ilmu tentang kebaikan dan kemunkaran itu sendiri, yakni bisa membedakan antara keduanya dan berilmu tentang hal-hal yang diperintah dan yang dilarang oleh agama (Al-Quran dan hadits). Sedangkan Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka apa yang dirusaknya lebih banyak dari apa yang diperbaikinya”. lebih lanjut hadits Mu’adz Bin Jabal Rasulullah Saw bersabda, ‘Ilmu adalah imam amalan, dan amalan mengikutinya.’ Sesungguhnya niat dan amalan jika tidak berlandaskan ilmu maka itu adalah kebodohan, kesesatan dan mengikuti hawa nafsu dan inilah perbedaan antara orang-orang jahiliyah dan orang-orang Islam,”
Kata “Kebaikan” dalam hadits ini adalah manivestasi dari ilmu, karena ilmu mendatangkan kebaikan bagi orang yang menuntutnya. Untuk memperoleh ilmu tentunya dengan proses pendidikan yang harus ditempuh oleh para penuntut ilmu. Dalam khazanah keilmuan dikenal dua istilah yang cukup populer yaitu pendidikan dan pengajaran.“pada umumnya pendidikan lebih menekankan pada aspek dalam diri manusia, sedangkan pengajaran lebih banyak bersentuhan dengan aspek luar”. Lebih lanjut Zakiyah Deradjat menyebutkan ada tiga landasan utama dalam pendidikan Islam. Pertama : Al-Qur’an, kedua : As-Sunnah, ketiga : Ijtihad.
Dalam kenyataannya, banyak orang yang berilmu, maka perilakunya akan baik, ahlaknya baik dan lebih tenang, dalam arti lain dalam menghadapi hidup ini tidak menjadi beban baginya, karena mereka tahu bahwa dengan ilmu hidup lebih mudah dan meyakinkan. Dalam kaitan inilah hadits tersebut menyatakan bahwa orang yang memiliki ilmu akan di beri Allah kebaikan, kebaikan dalam agamanya, hidupnya dan urusan dunianya.

Penjelasan Singkat
Muhammad Fadil al-Jamaly (Guru Besar Pendidikan di Universitas Tunisia) mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar atau fitrah dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar). Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 78:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Ayat ini mengindikasikan kepada kita bahwa ketika kita dilahirkan tidak mengetahui sesuatu apapun. Maka Allah ciptakan pada diri manusia pendengaran, penglihatan dan hati, ini semua untuk membantu manusia dalam proses pendidikan. Tanpa melalui pendidikan manusia tidak mengetahui apa-apa. Dengan pendidikanlah manusia  bisa mengetahui tentang segala sesuatu terutama tentang kebesaran Allah SWT.
Firman Allah dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ  
Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat ini menjelaskan kepada kita untuk selalu membaca dan belajar. Proses belajar dan membaca hanya banyak dilakukan ketika manusia melakukan proses pendidikan. Sehingga dengan banyak membaca, manusia lebih dekat dengan Allah SWT dan banyak mengetahui tentang ciptaan-Nya terutama tentang proses penciptaan alam semesta ini. Pendidikan merupakan salah satu media yang paling utama untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT karena inti pendidikan itu adalah mendekatkan diri kepada-Nya.
Pendidikan berusaha mengembangkan potensi individu agar mampu berdiri sendiri, untuk itu individu perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengambangan berbagai hal, seperti konsep, prinsip, kreaktivitas, tanggungjawab, dan keterampilan. Tujuan pendidikan dalam pandangan islam harus mampu menciptakan manusia yang berilmu pengetahuan yang tinggi, dimana iman dan taqwa menjadi pengendali dalam pengamalan ilmunya di masyarakat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمِا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ  (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ )
“Barang siapa yang menginginkan kebehagiaan hidup di dunia maka hendaklah ia berilmu, dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan hidup di akhirat maka hendaklah ia berilmu, dan barang siapa yang menghendaki kedua-duanya maka hendaklah ia berilmu.”

Hadis diatas menjelaskan tentang pentingnya pendidiakan bagi umat manusia. Ilmu pengetahuan merupakan bekal kita untuk hidup di dunia dan di akhirat. Tujuan dari proses pendidikan adalah untuk kesempurnaan dan kemuliaan manusia itu sendiri.


2.2  TUJUAN MENINGKATKAN KUALITAS UIN DALAM PERSPEKTIF HADIST
A.    Pendidikan Berorientasi Futuristik
      Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan bangsa.
      Orientasi secara etimologi berasala dari kata orient ang berarti arah, dan sering digunakan untuk kata tujuan. Kata Futuristik adalah kata sifat yang berasal dari kata future (Inggris) yang berarti masa depan atau masa depan yang berharapan baik. Walaupun masa depan belum diketahui atau terjadi namun ia merupakan tujuan dan sasaran dari aktifitas-aktifitas masa kini.
      Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Berorientasi Futuristik adalah usaha yang dilakukan untuk mengembangkan potensi kognitif, afektif, da psikomotor. Peserta didik yang diarahkan pada kehidupannya dengan melihat perubahan-perubahan lingkungan dan masalah-masalah yang akan dihadapinya kini dan masa depan.
B.     Pendidikan Berorientasi Futuristik yang Terkandung dalam QS. Al-Baqarah Ayat 31
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"
Allah mengajarkan nama-nama tersebut kepada Adam As. untuk dipersiapkan menghadapi malaikat dan jin. Dari hal tersebut Allah Swt telah memberikan pengetahuan kepada Adam utuk nantinya memenangkan sayembara dengan malaikay dan iblis. Allah SWT mengajarkan nama-nama benda seluruhnya hanya pada Adam As. sebelum ia menjadi khalaifah dibumi. Allah juga telah mempersiapkan adam dengan diberi pembekalan (Ilmu Pengetahuan) untuk nantinya mnjadi khalifah di bumi. Karena pengajaran yang diberikan oleh Allah kepada Adam As adalah proses pembekalan sebelum Adam dijadikan khalifah dibumi.
Maka dari itu dalam mendidik hendaknya harus mengarahkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak atau sesuai dengan zamannya dan memperkirakan tipe masalah yang harus dihadapi oleh peserta didik dimasa yang akan datang. Untuk itulah seorang pendidik harus pandai dalam memprediksi gejala-gejala yang akan timbul dimasa depan nanti, materi-materi dari bahan pembelajaran dapat dikaitkan dengan problema tersebut. Sebagaimana Umar bin Khatab, seorang bijak yang hidup di abad ke 7 masehi, memberikan pernyataan yang sangat terkenal : “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمِا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ  (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ )
“Barangsiapa yang menghendaki kebaikan di dunia maka dengan ilmu. Barangsipa yang menghendaki kebaikan di akhirat maka dengan ilmu.  Barangsiapa yang menghendaki keduanya maka dengan ilmu” (HR. Bukhori dan Muslim)
  
2.3            BAGAIMANA PENGARUH HADIST DALAM MENINGKATKAN KUALITAS UIN
Hadist Nabi merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah Alquran. Hadis Nabi, sebagaimana Alquran menjadi pedoman hidup (way of life) bagi umat Islam. Rasulullah menjamin keselamatan bagi mereka yang konsisten dan konsekuen merujuk segala tindakannya kepada Alquran dan Hadist. Rasulullah bersabda :
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه
Artinya:
"Telah menceritakan kepadaku Malik, sesungguhnya ia menyampaikan kepadanya bahwa Rasulullah SAW bersabda,: " Aku tinggalkan kepadamu dua perkara (pusaka) tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya" (H.R. Malik)[2]

Abuddin Nata mencatat paling tidak ada empat alasan tentang pentingnya menghubungkan kajian pendidikan dengan Hadits, yaitu: Pertama, Nabi Muhammad SAW dinyatakan dalam Alquran sebagai suri tauladan yang baik bagi ummatnya. Sebagai suri tauladan, berarti termasuk pula suri tauladan dalam hal mendidik. Kedua, zaman Rasulullah adalah zaman yang telah berhasil melahirkan generasi yang memiliki keunggulan di bidang moral, sikap keagamaan, kepribadian, intelektual, dan social. Ketiga, Rasulullah diakui sebagai di dalam Alquran sebagai pendidik. Keempat, Di dalam hadisnya, beliau menyatakan bahwa kehadirannya di muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (bu'itstu liutammima makarim al-akhlaq). Pembemtukan ahklak mulia itu selanjutnaya menjadi tujuan dan jiwa pendidikan Islam.[3]

2.4  PROSES  PENINGKATAN KUALITAS UIN SESUAI PERSPEKTIF HADIST
Dilihat berdasarkan preses bagaimana cara pendidik dalam tahapan peningkatan kualitas UIN
A.    Pembicaraan Harus Jelas Dan Bila Perlu Diulang
عَنْ عَائِشَةَ رَحِمَهَا اللّهُ قَالَتْ كَانَ كَلاَمُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلاَمًا فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ  (رواه ابو داود)
 Dari Aisyah Rahimahallah berkata, sesungguhnya perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, dan dapat memahamkan orang yang mendengarkannya. (HR. Abu Dawud)

Pembahasan :
Didalam hadist tersebut dijelaskan diantara sifat ucapan Rasulullah SAW adalah sangat jelas dan mudah dipahami oleh orang yang mendengarkanya. Oleh karenanya, Rasulullah SAW mengucapkan sesuatu kepada seseorang menggunakan gaya dan bahasa dengan kemampuan dya tangkap pemikiran orang yang sedang diaajak bicara oleh beliau.

Analisis :
Didalam hadist diatas, pendidik mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran yaitu proses penyampaian materi yang akan disampaikan kepada para murid. Dengan perkataan yang jelas dan mudah dipahami proses penyampaian pesan dapat diterima dengan baik oleh para murid. Perkataan yang jelas dalam hal ini bukan hanya sekedar jelas. Namun lebih dari itu “jelas” disini adalah mampu memahamkanm peserta didik yang dihadapinya.
Perkataan yang jelas dan mudah dipahami akan menjadi salah satu factor keberhasilan pendidikan. Diharapkan dengan adanya perkataan yang jelas dan mudah dipahami tersebut anak didik akan dapat menyerap dan memahami apa yang disampaikan pendidik.

حَدَّثَنَا عَبْدَةُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا (رواه البخارى)
 Telah menceritakan kepada kami Abdah berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna berkata; Tsumamah bin Abdullah telah menceritakan kepada kami dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila memberi salam, diucapkannya tiga kali dan bila berbicara dengan satu kalimat diulangnya tiga kali.  (HR. Imam Bukhori)

Pembahasan :
Ada perbedaan pendapat apakah salam termasuk syarat dalam meminta izin untuk memasuki rumah atau tidak ? Imam Maziri berkata : bentuk permintaan izin ialah dengan cara mengucapkan “Assalammua’alaikum, apakah boleh masuk?” kemudian ia boleh memilih antara menyebutkan namanya atau hanya mengucapkan salam saja.
Imam Isma’il berkomentar bahwa salam itu dilakukan secara berulang-ulang ketika meminta izin, salam dilakukan secara berulang-ulang pada sekumpulan orang banyak yang sebagian orang belum mendengar, begitu juga ia mengucapkan salam dan dia menyangka orang pemilik rumah belum mendengar maka disunahkan mengulanginya kembali dua atau tiga kali. Ada perbedaan pendapat mengenai seseorang yang mengucapkan salam tiga kali dan menyangka kalau pemilik rumah belum mendengar, menurut Imam Malik seseorang harus menambah salamnya sapai pemilik rumah mendengarnya, kebanyakan ulama’ dan penganut madzhab Imam Maliki berpendapat tidak boleh menambah salam karena mengikuti dhohirnya hadist.

Analisis :
Dalam hadist diatas Rasulullah SAW menggunakan pengulangan dengan kalimatوَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا Hadist ini mengindikasikan bahwa pengajaran memerlukan banyak pengulangan. Pengulangan bahan yang telah dipelajari akan memperkuat hasil belajar.. Nabi Muhammad SAW ketika menerima wahyu yang pertama dalam keadaan “meniru dan mengulang” apa yang disampaikan oleh Jibril.
Oleh karena itu, hendaknya para pendidik sesudah materi disampaikan kepada peserta didik diharapkan untuk melakukan pengulangan kembali. Hal ini dimaksudkan untuk mempertinggi penguasaan peserta didik terhadap materi yang sudah diterima. Demikian juga halnya sebelum memberikan materi yang baru, hendaknya para pendidik melakukan pengulangan kembali terhadap materi sebelumnya hal ini bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada peserta didik tentang materi sebelumnya dan juga agar materi yang sebelumnya tidak hilang begitu saja.

B.     Metode peragaan dan demonstrasi
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ اليَتِيْمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى (رواه مسلم)
Artinya: ”Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda : ” Aku akan bersama orang-orang yang menyantuni anak yatim di surga akan seperti ini (Rasulullah menunjukkan dua jari, jari telunjuk dan tengah yang saling menempel)”.(HR. Muslim bin al-Hijaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburi)[4]

Pembahasan :
Dari hadist diatas yang dimaksud dengan   ( كَافِلُ اليَتِيْمِ) adalah mencukupi segala kebutuhannya mulai dari nafakah, pakaian, pendidikan sekolah dan bertanggung jawab atas baik buruknya adabnya. Hal yang demikian ini mendapatkan keuatamaan baik dari hartanya sendiri maupun harta anak yatimtersebut dengan menjadi walinya ini.
Maksud dari أَوْ لِغَيْره yaitu orang terdekatnya seperti kakek, nenek, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dari ayah, paman dari ibu bibi dari ibu dan orang lain.

Analisis :
Pada hadist diatas menerangkan tentang hubungan kedekatan Rasulullah dengan orang yang memelihara anak yatim. Rasulullah SAW mendemonstrasikan juga dengan jari beliau. Beliau menerangkan kepada para sahabat bahwa kedudukan beliau dengan orang yang memelihara anak yatim di surga begitu dekat, seperti kedekatan jari tengah dan jari telunjuk.
Dalam dunia pendidikan sekarang ini, para pendidik dianjurkan sekali untuk bisa meneladani Rasulullah SAW dalam menjelaskan pelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam metode pengajarannnya. Metode peraga ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan media pendidikan. Media pendidkan adalah suatu benda yang dapat dindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat dalam maupun luar kelas yang digunakan sebagai alat bantu penghubung dalam proses pembelajaran. Media pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa. Media pendidikan mengandung beberapa beberapa aspek-aspek yaitu sebagai alat atau sebagai teknik yang berkaitan erat dengan metode pengajaran.
عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُوْنَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِيْنَ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيْمًا رَفِيْقًا فَلَّمَا وَظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ فَأَقِمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ وَذَ كَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْلاَ أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدَكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُ كُمْ (رواه البخارى)
 Dari Abi Qilabah katanya hadist dari Malik. Kami mendatangi Rasulullah SAWDan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah SAW adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya, beliau bersabda : kembalillah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka, beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Imam Bukhari)

Pembahasan :
Hadist ini sangat jelas menunjukkan tata cara shalat Rasulullah kepada sahabat. Sehingga para sahabat dipesankan oleh Rasulullah agar shalat seperti yang dicontohkan olehnya.
Maksud dari hadist diatas adalah mengenai metode peragaan yang terdapat didalam kalimat hadist terakhir yaitu “ Dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Dan apabila telah datang waktu shalat, maka adzanlah salah satu diantara kalian. Dan yang paling tua diantara kalian jadikanlah imam

Analisis :
Dari penjelasan diatas telah dijelaskan bahwa Rasulullah melakukan metode demonstrasi tentang tata cara shalat kepada sahabatnya. Hal dimaksudkan unntuk memperjelas tentang bagaimana tata cara shalat yang sesuai dengan Rasulullah.
      Metode demonstrasi  adalah metode pembelajaran yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau bagaiman memperlihatkan sesuatu kepada peserta didik. Metode demonstrasi ini dilakukan bertujuan agar pesan yang disampaikan oleh pendidik dapat dikerjakan dengan baik dan benar oleh peserta didik.

C.     Metode cerita atau kisah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا وَهُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَـأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلاَ حُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لّهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوْا يَارَسُوْلُ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي البَهَائِمِ أَجْرًا قَالَ فِي كَلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرُ (رواه البخارى)
 Dari Abu Hurairah r.a, Ia berkata sesungguhnya Rasululllah SAW bersabda : “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan-jalan tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba datang seekor anjing menjulur-julurkan lidahnya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu berkata : anjing itu sangat haus sebagaimana aku, kemudian masuk kesumur lagi dan ia penuhi sepatunya (dengan air), kemudian ia (haus lagi) sambil menggigit sepatunya dan ia beri minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni, sahabat bertanya wahai Rasulullah: adakah kita mendapat pahala karena kita menolong hewan ? Nabi SAW menjawab : disetiap yang mempunyai limpa basah ada pahalanya”. (HR.Imam Bukhori)

Pembahasan :
Ketika seorang laki-laki sedang berjlan tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali, kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba datang seekor anjing menjulur-julurkan lidanya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu berkata: anjing itu sangat haus sebagaimana aku, kemudian masuk ke sumur lagi dan ia penuhi sepatunya (dengan air), kemudian ia (haus lagi) sambil mengigit sepatunya dan ia beri minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya.
Menurut Abdullah bin Dinar Allah memasukkan lelaki tersebut ke surga. Dari hadist ini mengajarkan kepada kita senantiasa saling menyayangi sesama makhluk Allah meskipun pada hewan yang diharamkan.

Analisis :
Hadist diatas menjelaskan bahwa pendidikan dengan metode cerita dapat menumbuhkan kesan yang mendalam pada anak didik, sehingga dapat memotivasi anak didik untuk berbuat yang baik dan menjauhi hal yang buruk. Bahkan kaedah ini merupakan metode yang menarik yang mana sering dilakukan oleh Rasulullah dalam menyamapaikan ajaran islam. Teknik ini menjadikan penyampaian dari Rasulullah menarik sehingga menimbulkan minat dikalangan para sahabatnya.
Teknik bercerita ini adalah salah satu teknik yang baik untuk menerapkan aspek pembangunan insan karena didalamnya mencakup seluruh metodologi pendidikan yaitu pendidikan mental, akal, jasmani serta unsur-unsur yang ada dalam jiwa seseorang, pendidikan itu melalui teladan dan nasehat. Bukti terbaik dari metode ini adalah bagaimana setengah dari isi kandungan Al-Qur’an adalah tentang cerita atau kisah dalam penyamapaian ajarannya.

D.     Metode tanya jawab dan diskusi
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْمَظْلُوْمًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلُ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُوْمًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهٌ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ (رواه البخارى)
Artinya: Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rasulullah telah bersabda: tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang didhalimi. Mereka bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana menolong orang dzalim?, Rasulullah menjawab tahanlah (hentikan) dia dan kembalikan dari kedzaliman, karena sesungguhnya itu merupakan pertolongan kepadanya.(HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori al-Ju’fi)[5]

Hadist ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk menolong orang yang dzalim dan yang didzalimi. Anas berkata ia telah menolong orang yang didzalimi, kemudian ia berkata kepada Rasulullah bagaimana cara menolong orang yang dzalim? Rasul pun menjawab untuk menghentikannya dan mengembalikannya dari kedzaliman. Diskusi terdapat pada permasalahan bagaimana cara menghentikan orang dzalim tersebut dan mengembalikan dia dari kedzalimannya.[6]
Diskusi pada dasarnya tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur penaglaman, secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu diskusi bukan debat atau perang mulut. Dalam diskusi tiap orang diharapkan memberikan smbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan paham yang dibina bersama.[7]



BAB III
PENUTUPAN


3.1 KESIMPULAN
            Dalam meningkatkan kualitas UIN membutuhkan dukungan dari semua pihak seperti Rektor, dosen, orang tua, masyarakat,dan yang paling utama dari mahasiswa yang menjadi tokoh utama dalam meningkatkan kualitas UIN. Dan mengaplikasikan serta menjadikan Rasulullah sebagai inspirasi dan motivasi dalam kehidupan sehari-hari. Hadits-hadits yang telah disebutkan juga merupakan bukti sahih keberhasilan beliau dalam dunia pendidikan.

3.2 SARAN
            Diharapkan kepada pembaca untuk mengetahui dan mengamalkan apa yang tercantum dalam karya ilmiah ini. Dan juga diwajibkan kepada pembaca untuk menggunakan Al-Quran dan Hadits sebagai landasan karena hal itu ikut menentukan corak dan bentuk amal ibadah dalam kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun makhluk sosial, yang sekaligus pendidikan tersebut mendukung tujuan hidup manusia sesuai dengan isi Al - Quran dan Hadits.


DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Pendidikan dalam Persfektif Hadis, cet. I , ( Jakarta : UIN Jakarta Press, 2005).
Ahmadi Toha, Terjemah Sahih Bukhori, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986).
Dr. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995).
Malik bin Anas, Muwaththa', cet. I, juz V, ( t.t : Maktabah Zayid bin Sulthan Ali Nabhan, t.th).
Sutoyo dkk, Alquran hadits untuk madrasah aliyah semester 2 kelas X(Surakarta,CV Pratama,2010)
Suyudi, M. 1999.  Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an. Yogyakarta : Penerbit Mikraj
Zuhairini. Filsafat pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara



[1] Sutoyo dkk, Alquran hadits untuk madrasah aliyah semester 2 kelas X,Surakarta,CV Pratama,2010, hlm. 2-3.
[2] Malik bin Anas, Muwaththa', cet. I, juz V, ( t.t : Maktabah Zayid bin Sulthan Ali Nabhan, t.th), hlm. 1323.
[3] Abuddin Nata, Pendidikan dalam Persfektif Hadis, cet. I , ( Jakarta : UIN Jakarta Press, 2005), hlm. 13-22.
[4] Imam Muslim, Shahih Muslim, (Bairut : Dar Al-Kutub Al-Amaliyah juz 10, 1994), hlm. 42.
[5] Ahmadi Toha, Terjemah Sahih Bukhori, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), hlm. 217.
[6] Ibid., hlm 248.
[7] Dr. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995), hlm. 80.